Budidaya dan Pemanfaatan Tanaman Rosella

TEKNIK PEMBUDIDAYAAN DAN PEMANFAATAN

TANAMAN ROSELLA Hibiscus sabdariffa Linn.

Oleh : LIDIA CH. UMBORA (H411 06 204)


BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Alam dan seisinya diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia, yaitu untuk memenuhi keperluan-keperluan hidup tertentu dari manusia, misalnya untuk kebutuhan makan, sebagai bahan obat-obatan dan lain-lain. Salah satunya adalah tanaman rosella. Pada awalnya, sebagian besar masyarakat awam, belum mengenal tanaman tersebut. Wajar memang karena tanaman ini belum begitu populer. Namun, di kalangan para pecinta tanaman obat maupun tanaman hias, rosella merupakan tanaman multifungsi yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, baik yang ingin terjun dalam dunia bisnis, kesehatan ataupun budidaya rosella (Widyanto dan Anne, 2009).

Dahulu, rosella hanya dikenal di kalangan petani. Mereka biasa memanfaatkan daun mudanya untuk dikonsumsi dan juga mengembangkan tanaman ini untuk diambil seratnya yang dipakai sebagai bahan pembuatan karung goni. Saat ini rosella dikembangkan lagi bukan untuk diambil seratnya tetapi untuk diambil kelopak bunganya. Kelopak bunganya dikenal sebagai frambozen dan sering digunakan untuk bahan pembuat sirup berwarna merah yang beraroma khas. Kini penggunaanya berkembang untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan teh, dan lain-lain. Hingga kemudian diketahui bahwa kelopak bunga rosella ternyata memiliki banyak khasiat obat. Oleh karena itu tanaman ini menjadi populer di berbagai penjuru dunia yang beriklim subtropis dan tropis, termasuk di indonesia (Istiana dkk, 2006).

Rosella merupakan tumbuhan semusim, jadi hanya mengalami satu kali masa produktif . Rosella mudah tumbuh di mana saja, asal kondisi tanah yang di inginkan sesuai dengan syarat tumbuhnya. Namun demikian, tanaman yang dibiarkan tumbuh seadanya, akan menghasilkan kelopak bunga yang tidak maksimal. Sebaiknya, rosella ditanam secara khusus tanpa diselingi tanaman lain untuk mengoptimalkan hasil panen (Widyanto dan Anne, 2009).

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka, disusun rumusan masalah sebagai berikut ;

- Rosella masih sangat jarang di budidayakan dan belum begitu populer.

- Rosella hanya dikenal dikalangan petani, namun pemanfaatannya masih bersifat tradisional.

- Bagaimana cara agar masyarakat mengetahui teknik pembudidayaan rosella yang baik.

II.1 Tujuan dan Manfaat

II.1.1 Tujuan

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui teknik pembudidayaan dan pemanfaatan tanaman rosella Hibiscus sabdariffa Linn.

II.1.2 Manfaat

Manfaat dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang teknik pembudidayaan dan pemanfaatan tanaman Rosella Hibiscus sabdariffa Linn.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A. Morfologi Tanaman Rosella

Tanaman Rosella berupa semak yang berdiri tegak dengan tinggi 0,5-5 m. ketika beranjak dewasa dan sesudah berbunga, batangnya berwarna coklat kemerahan. Batang berbentuk silindris dan berkayu, serta memiliki banyak percabangan. Pada batang melekat daun-daun yang tersusun berseling, berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan pertulangan menjari dan tepi bergerigi. Daun menjari mirip daun singkong berujung runcing. Tulang daunnya berwarna merah. Panjang daun mencapai 6-15 cm dan lebar 5-8 cm. Akar yang menopang batangnya berupa akar tunggang. Bunga rosella berwarna merah muncul di ketiak daun, mahkota bunganya berbentuk corong yang tersusun dari 5 helai daun mahkota. Kelopak bunga sangat menarik dengan bentuk yang menguncup indah dan dibentuk dari 5 helai daun kelopak. Selain mahkota dan kelopak , bunga juga di lengkapi 8-12 kelopak tambahan (epikaliks) (Admin, 2009).

Bunga muncul saat tanaman berumur 2,5-3 bulan setelah tanam. Awalnya bunga berwarna merah muda dan belum menyerupai bunga yang sudah matang. Dua minggu kemudian bunga rosella muda berbentuk bulat kecil berwarna hijau dengan berwarna merah. Selama pertumbuhan tanaman, kelopak ini akan semakin besar, kaku, dan menebal serta berubah warna menjadi merah cerah. Pada bunga terdapat putik dan benang sari (hermaprodit). Bunga yang berhasil dibuahi akan menjadi buah. Buah terbagi menjadi lima ruang, di setiap rungan terdapat 3-4 biji dan menyerupai bentuk ginjal. Biji yang masih muda berwarna putih, sedangkan jika sudah tua berwarna coklat (Widyanto dan Anne, 2009).

Gambar 1 : Tanaman Rosella Hibiscus sabdariffa Linn.


Tanaman rosella dapat tumbuh didaerah tropis dan sub tropis yang hangat (25-30 0 C) namun cukup lembap (70 %). Rosella cocok ditanam pada ketinggian 0-1.000 m di atas permukaan laut, deengan curah hujan 140-270 mm per bulan. Pada curah hijan randah, rosella masih dapat tumbuh, tetapi tidak sebaik di daerah bercurah hujan tinggi. Panjang periode vegetatif dapat di atur sejak masa penaburan benih. Agar tanaman ini dapat tumbuh maksimal di butuhkan air dan sinar matahari penuh selama 12 jam untuk pembungaan dan berbuah. Umumnya, rosella dapat tumbuh pada semua jenis tanah selama tanah tersebut kaya akan humus, gembur, dan memiliki drainase yang baik dengan pH 6,5-7,5 (Widyanto dan Anne, 2009) (Anonim a, 2009).

Ukuran rosella agak berbeda untuk setiap daerah. Sebagai contoh rosella dari Cirebon atau Surabaya umumnya berukuran agak lebih kecil dibandingkan rosella dari Bogor,Sukabumi, atau Cipanas yang umumnya berukuran besar. Dalam hal warna pun demikian. Ada yang merah muda, merah tua, merah kecoklatan dan merah kehitaman. Bahkan, di Surabaya (Jawa Timur) ada rosella yang kelopaknya berwarna kuning dan berukuran kecil (Widyanto dan Anne, 2009).

B. Asal-usul Tanaman Rosella

Banyak pendapat yang mengira bahwa tanaman rosella berasal dari Afrika, memang, rosella banyak tumbuh di sana dan di bawah oleh para budak Afrika hingga ke berbagai belahan dunia, antara lain Sudan, Mexico, Jamaika, Brasil, Panama, serta beberapa Negara bagian Amerika dan Australia. Namun, sebenarnya tanaman ini berasal dari India bagian barat. Di India, orang memanfaatkan serat rosella untuk bahan pembuatan tekstil, karena orang dahulu belum mengetahui khasiatnya sehingga tanaman ini tidak dibididayakan, melainkan serat batangnya di manfaatkan untuk membuat tali dan karung goni. Pada abad ke-14, pedagang dari india membawa tanaman ini ke Indonesia. Rosella ditemukan kali pertama di Pulau Jawa, tepatnya di halaman sebuah rumah, oleh ahli botani asal Belanda yang bernama M. de L'Obel pada 1576, tumbuhan ini banyak ditemukan sebagai tanaman pagar (Widyanto dan Anne, 2009).

C. Klasifikasi Rosella Hibiscus sabdariffa Linn.

Dalam taksonomi tumbuhan, rosella masih berkerabat dekat dengan kembang sepatu. Adapun klasifikasinya sebagai berikut (Anonim b, 2009).

Divisi : Spermatophyta

Sub- Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Malvales

Suku : Malvceae

Marga : Hibiscus

Jenis : Hibiscus sabdariffa Linn.

Tanaman tersebut dikenal dalam berbagai nama, seperti jamaican sorell (India Barat), oseille rouge (Prancis), quimbombo chino (Spanyol), karkade (Afrika Utara), dan bisap (Senegal). Sedangkan di Indonesia, tanaman tersebut lebih dikenal sebagai mrambos hijau (Jateng), asam jarot (Padang), asam rejang (Muara Enim), dll (Anonim c, 2009).

D. Kandungan dan Khasiat Tanaman Rosella Hibiscus sabdariffa Linn.

Berbagai kandungan yang terdapat dalam tanaman rosella membuatnya populer sebagai tanaman obat tradisional. Kelopak bunga rosella mengandung vitamin C (260-280 mg setiap 100 g), vitamin D, vitamin B1, vitamin B2, niacin, riboflavin, betakaroten, zat besi, asam amino, polisakarida, omega 3, kalsium, dll. Rasa asam dari kelopak bunga itu disebabkan kandungan vitamin C, asam sitrat, dan asam glikolik. Daun dan buah rosella juga mengandung senyawa bermanfaat, diantaranya saponin, flavonoid dan polifenol (Anonim b, 2009).

Kandungan gizi kelopak bunga segar tiap 100 gram yaitu, Protein 1,145 gr, Lemak 2,61 gr, Serat 12 gr, Kalsium 1,263 gr, Fosfor 273.2 mg, Zat besi 8,98 mg, Malic Acid 3,31 %, Fruktosa 0,82 %, Sukrosa 0,24 %, Karotin 0,029 %, Tiamin 0,117 mg, Niasin 3,765 mg, Vitamin C 244,4 mg (Anonim e, 2007).

Uji komponen zat gizi dan aktivitas antioksidan pada kelopak rosella oleh Nurfaridah tahun 2005 dalam (Widyanto,Anne dan Anonim a, 2009). Menemukan bahwa kadar antioksidan yang terkandung dalam kelopak kering Rosella jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kumis kucing dan bunga knop. Zat aktif yang paling berperan dalam kelopak bunga Rosella meliputi gossypeptin, antosianin, glucoside hibiscin dan flavonoid.

Pada tanaman rosella yang berkhasiat adalah kelopak yang berwarna merah. Memang, kelopak itu berbentuk seperti bunga, terlebih jika sudah dikeringkan. Kelopak tersebut dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun seduhan. Kelopak bunga tanaman tersebut berwarna merah tua, tebal, dan berair. Semakin pekat warna merah, rasanya kian asam dengan khasiat yang juga semakin besar (Anonim g, 2009).

Kelopak rosella mengandung antioksidan yang dapat menghambat terakumulasinya radikal bebas penyebab penyakit kronis, seperti kerusakan ginjal, diabetes, jantung koroner dan kanker (darah). Antioksidan juga dapat mencegah penuaan dini, dan salah satu zat aktif yang berperan adalah antosianin. Antosianin merupakan pigmen tumbuhan yang memberikan warna merah pada bunga rosella dan berperan mencegah kerusakan sel akibat paparan sinar UV berlebih. Salah satu khasiatnya adalah dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, bahkan mematikan sel kanker tersebut. Antosianin yang berpengaruh diberi nama delphinidin 3- sambubioside (Widyanto dan Anne, 2009).

Dulu kelopak bunga tanaman tersebut dikenal sebagai frambozen dan sering digunakan untuk bahan pembuat sirup berwarna merah yang beraroma khas. Baru sekarang ini, kelopak bunga rosella dikenal sebagai bahan minuman yang disebut teh rosella. seperti teh, selain itu kelopak bunga rosella dalam bentuk segar dapat dimanfaatkan untuk membuat makanan seperti puding, campuran salad, jus, manisan, selai, dan sirup. Selain rasanya yang enak, kelopak bunga itu memang memiliki efek farmakologis cukup lengkap (Anonim f, 2008).

Daun rosella juga bisa digunakan untuk merawat luka dari gigitan serangga, penyakit kulit, kaki yang pecah-pecah, mempercepat pematangan bisul dan melembutkan kulit. Selain itu, daun muda rosella bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Biji rosella mempunyai kandungan dan juga berperan sebagai diuretik, antisariawan, selain itu biji digunakan untuk mengobati penyakit kulit, kekurangan darah, menyembuhkan gangguan pencernaan dan meningkatkan stamina. Sementara itu di Afrika, biji Rosella dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Pahitnya akar rosella dapat menambah stamina dan keperkasaan. Ekstrak kelopaknya dapat digunakan untuk meredakan kejang (antipasmodik), mengobati cacingan (antelmintik), mengatasi batuk dan sebagai antibakteri (Anonim i, 2007) (Widyanto dan Anne, 2009).






Gambar 2 : Kelopak Rosella Hibiscus sabdariffa









Gambar 3 : Biji Rosella Hibiscus sabdariffa Linn.




Teh rosella juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh; mengatasi sakit tenggorokan; meluruhkan dahak; menurunkan kadar gula darah; menurunkan kolesterol; TBC; mengatasi panas dalam; sembelit; megurangi dampak negatife nikotin bagi para perokok; mengurangi resiko osteoporosis dan memperhambat menopause. Selain itu, rosella juga dapat digunakan sebagi antiseptic usus dan antiradang serta terapi bagi para pecandu narkoba (Widyanto dan Anne, 2009).

E. Teknik Pembudidayaan Rosella

Pada prinsipnya tanaman Rosella dapat hidup di kondisi lahan, cuaca, serta suhu apapun, akan tetapi di setiap daerah yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda pula. Rosella dapat hidup di ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut. Rosella tumbuh baik di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 m dpl. Pertumbuhan Rosella dapat optimal di kisaran 20-34 derajat celcius. Rosella merupakan tanaman semusim, hanya mengalami satu kali masa produktif. Batang Rosella akan tumbuh dari satu titik tumbuh. Batangnya tumbuh relatif tinggi yaitu 1-3 meter dan lebar bisa mencapai 2 meter (Anonim a, 2009).

a. Pembenihan (Skala kecil/ pemula)

Sebelum disemaikan, Biji dibuat kecambah dengan cara direndam dalam air selama 24 jam dan ditutup dengan kapas basah selama 2-3 hari, biji yang telah menjadi kecambah ditanam langsung pada lahan yang telah disiapkan atau polibag. Basahi kapas setiap hari hingga semua biji berkecambah atau menyisakan biji tidak dapat berkecambah (biasanya sekitar 10 hari). Cara ini mengurangi kemungkinan rusaknya biji oleh serangga tanah atau pembusukan jika ditanam langsung (Anonim a, 2009).

Menurut (Widyanto dan Anne, 2009), mendapatkan bibit setek tanaman rosella yaitu dengan cara sebagai berikut,

1) Potong batang rosella yang sudah dewasa ( tua), tetapi yang masih baik dan sehat, ditandai dengan kondisi batang yang belum mengering dan membusuk.

2) Tancapkan batang pada media tanah yang gembur dan subur agar tanaman dapat tumbuh baik.

3) Dalam waktu 7-10 hari akan tumbuh tunas baru.

b. Cara Menanam Rosella

- Menanam rosella di pot

Cara menanam rosella di pot adalah sebagai berikut (Widyanto dan Anne, 2009). :

1) Siapkan bibit rosella yang sehat serta bebas hama dan penyakit

2) Siapkan pula media tanam berupa campuran tanah dengan pupuk kandang (1 : 1).

3) Gunakan pot berukuran besar dengan diameter sekitar 40 cm agar pertumbuhan akar tanaman bisa maksimal.

4) Setelah semua bahan siap, masukkan media tanam dalam pot hingga ¾ bagian pot.

5) Keluarkan bibit dari wadah asalnya bersama dengan medianya, lalu tempatkan tepat di tengah pot.

6) Tambahkan media tanam hingga permukaan pot penuh.

7) Siram tanaman dengan air secukupnya, lalu tempatkan di tempat teduh selama satu minggu. Setelah itu, tanaman ditempatkan di lokasi yang terkena sinar matahari agar proses pertumbuhan bunga menjadi lebih baik.

- Menanam Rosella Secara Langsung di Tanah

Berikut tahap-tahap penanaman rosella pada lahan terbuka.

1) Tentukan lokasi pembuatan lubang tanaman dan atur jarak tanam sekitar 100 cm x 100 cm.

2) Gemburkan lahan yang akan ditanami dengan menggunakan cangkul. Jika perlu, tambahkan pupuk kandang atau kompos untuk setiap lubang tanam.

3) Buat lubang tanam berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm.

4) Keluarkan bibit dari polibag, lalu masukkan bibit ke dalam lubang tanam dan timbun dengan tanah.

5) Padatkan tanah di sekitarnya, jika perlu, sokong tanaman dengan kayu/bambu agar tanaman tidak tumbang atau tertiup angin.

6) Periksa tanaman secara intensif dalam satu bulan pertama. Jika bibit terserang penyakit, segera cabut agar bisa di ganti dengan bibit baru.

- Menanam Rosella di Polibag

Untuk lahan yang sangat terbatas bisa menggunakan polibag dengan hasil tanam yang terbatas, biasanya tinggi pohon hanya mencapai 40-70 cm. Media polibag juga dapat dijadikan media penyiapan benih hingga berumur 1 bulan (15-20 cm).

1) Menyiapkan kantong polibag

2) Kemudian masing-masing polibag tersebut diisi dengan tanah dan pupuk hingga permukaan polibag rata dengan tanah

3) Membuat lubang ± 1cm pada masing-masing polibag yang telah di sedikan

4) Kemudian memasukkan biji di setiap lubang yang di buat pada kantung polibag.

c. Penyiraman dan Pemupukan

Pemeliharaan tanaman rosella sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang penting tanahnya subur, gembur, cukup air dan sinar mataharinya pun cukup. Namun, bila tanahnya kering akibat kekurangan air, perlu disiram sekali sehari, pagi atau sore (Widyanto dan Anne, 2009).

Pemupukan pada lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu setelah tanam diberi pupuk urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman (Anonim e, 2007).

d. Hama dan Penyakit

Penyakit yang menyerang tanaman rosella adalah sejenis cendawan, phytopthora. Hama yang pernah ditemukan pada tanaman rosella adalah Heterodera rudicicola (Nematoda). Hama ini menyerang akar dan batang tanaman. Hama lain yaitu kutu loncat yang berwarna putih, biasanya terdapat di ranting atau di dalam kelopak bunga. Gejala serangan hama ini ditunjukkan denga adanya jamur berwarna putih pada ranting, daun dan bunga. Selain nematoda dan kutu loncat, tanaman juga sering diserang hama serangga, seperti belalang dan ulat (Widyanto dan Anne, 2009).

Untuk penanganan hama (biasanya ulat daun, belalang, kutu) dan peyakit tersebut bisa dengan pestisida organik, yang dibuat sendiri seperti dengan menggunakan air rendaman tembakau sisa puntung rokok, sabun detergen yang dicairkan sebagai pengganti pestisida atau dengan menggunakan Sambiloto (Andrographidis paniculata) dan daun Mimba (Azadirachta indica), caranya daun sambiloto dan mimba segar (atau kering) ditumbuk dan dicampur air (100 gram dalam 5 L air) disaring lalu disemprotkan dengan sprayer ke seluruh bagian tanaman yang terserang hama (Anonim d , 2008).

e. Pemeliharaan

Selama pertumbuhan tanaman perlu diwaspadi keberadaan gulma yang akan berdampak negatif, oleh karena itu dilakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi lahan. Pada saat rosela berbunga (umur 3-4 bulan) memerlukan air yang lebih sedikit dan sinar matahari yang cukup untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas bunga (Anonim e, 2007) (Anonim d, 2008).

f. Panen dan Pascapanen

Tujuan dari penanaman rosella adalah untuk diambil kelopak bunganya. Agar kualitas kelopak yang dihasilkan baik maka perlu dilakukan pemanenan yang tepat.

Ø Panen

Rosella sudah dapat dipanen pada umur 7-8 bulan, yaitu terhitung dari masa di

tanamnya biji. Pada umur tersebut kelopaknya yang berwarna merah pekat memiliki tekstur keras. Tandahnya buah sudah siap di petik.

Panen dapat dilakukan jika kelopak bunga sudah mencapai ukuran optimal. Sebaiknya kelopak bunga dipanen dalam keadaan segar. Dalam sekali panen, satu tanaman rosella yang berkualitas baik dapat menghasilkan 200-1000 g kelopak basah atau 20-100 g kelopak rosella kering. Rosella hasil panen biasanya dikeringkan agar awet dan lebih tahan lama.

Rosella dapat dipanen setiap satu atau dua minggu untuk satu kali masa panen. Setelah masa panen pertama, dua minggu kemudian akan tumbuh kuntum baru. Kuntum baru tersebut dapat dipanen setelah selang waktu 4-4,5 bulan.

Rosella yang siap panen ditandai dengan mahkota bunga yang telah gugur dan buahnya membuka. Pilihlah kelopak yang masih segar, serta biji yang sudah masak dan belum mengering. Pemetikan dilakukan dengan menggunakan gunting. Saat memetik, usahakan agar kelopaknya tetap utuh dan menguncup.

Rosella memiliki umur maksimal hingga 5 kali panen dengan kondisi tanah yang baik. Jika kondisi tanah yang tidak baik, rosella hanya mampu berbunga sebanyak 2-3 kali. Pada masa panen terakhir, tanaman harus diganti dengan bibit yang baru.

Ø Pascapanen

Setelah panen, rosella perlu penanganan khusus. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, di antaranya mengeluarkan biji, menjemur biji, mengeringkan bunga dan menguji tingkat kekeringan bunga.

1. Mengeluarkan Biji

Setelah penen, tahap berikutnya mengeluarkan biji beserta cangkang dari dalam kelopak. Tahap ini harus segera dilakukan karena kapsul penutup biji cepat mengering dan mengeras. Jika tidak, biji akan sulit dikeluarkan. Biji beserta cangkang dikeluarkan dari kelopak dengan menggunakan alat berupa gagang berongga. Gagang sebaiknya terbuat dari logam bulat dan panjang dengan garis tengah 1 cm. Ujung gagang harus tajam supaya dapat mengiris bagian dasar buah kemudian mendorongnya keluar.

2. Menjemur Biji

Setelah dikeluarkan dari kelopak, cangkang biji harus dijemur hingga merekah dan biji akan keluar dengan sendirinya. Jangan membuka dengan paksa cangkang biji yang masih berwarna hijau karena akan mengakibatkan biji yang didapat tidak berkualitas.

3. Mengeringkan Kelopak Rosella

Tahap berikutnya adalah pengeringan kelopak rosella. Ada dua cara pengeringan yang biasa dilakukan, yaitu dijemur di bawah sinar matahari atau dipanaskan dalam oven. Namun, yang banyak dilakukan masyarakat adalah adalah pengeringan dengan sinar matahari. Proses pengeringan ini membutuhkan waktu 3-5 hari di bawah sinar matahari penuh tanpa diselingi mendung. Namun, bila diselingi mendung atau hujan , proses pengeringan bisa mencapai 7 hari bahkan lebih.

Jika tahapan pengeringan sudah selesai maka lanjutkan dengan menguju tingkat kekeringan kelopak. Caranya adalah dengan menekan kelopak hasil pengeringan menggunakan dua jari. Jika kelopak pecah, berarti rosella sudah benar-benar kering dan siap dinikmati, dijual atau diolah lebih lanjut.

F. Pengolahan dan Pemanfaatan Rosella

Sebagian masyarakat ada yang mengkonsumsi rosella dalam bentuk segar sebagai lalapan, salad, manisan, jus, sirup dan selai. Adapula yang memanfaatkannya bentuk kering sebagai bahan pembuat the atau kopi. Teh rosella telah populer di berbagai negara seperti, Meksiko, Thailand dan Sudan. Konon, the ini merupakan minuman kaum bangsawan Mesir Kuno dan sering disajikan pada pesta pernikahan di Sudan (Widyanto dan Anne, 2009).

- Pengolahan rosella menjadi teh celup

1. Cuci kelopak hasil panen dengan air bersih.

2. Belah kelopak rosela dan keluarkan bijinya.

3. Tempatkan kelopak yang telah dikupas di nampan atau alas yang bersih, lalu di kering-anginkan selama kurang lebih sehari hingga layu.

4. Masukkan kelopak rosela ke dalam oven hingga temperatur maksimal 800C selama 45 menit.

5. Keluarkan rosela dari oven lalu tiriskan hingga dingin. Periksa tingkat kekeringan dengan meremasnya. Jika kelopak tidak hancur, berarti rosela belum kering. Oleh sebab itu, masukkan kembali rosela ke dalam oven dengan suhu dan waktu sama. Setelah pengeringan kedua selesai, periksa kembali dengan cara sama. Jika sudah hancur, berarti rosela sudah benar-benar kering dan siap olah.

6. Masukkan rosela kering ke dalam mesin penghancur sehingga berbentuk serbuk.

7. Setelah digiling, keringkan kembali serbuk rosela dengan suhu 700C selama 3 jam untuk menghilangkan kadar air akibat lembap saat disimpan. Agar serbuk rosela tahan lama, kadar air maksimal 4%.

8. Kemas serbuk rosela ke dalam kantong celup masing-masing berisi 2,5 g serbuk rosella.

9. Agar higienis, masukkan setiap kantong celup ke dalam plastik berukuran 5 cm x 7 cm, lalu rekatkan hingga kedap.

10. Kemas kantong-kantong rosela celup ke dalam kotak karton. Rosela celup pun siap dinikmati konsumen.

- Pengolahan rosella menjadi sirup

Bahan :

1 ons rosella kering, 6 gelas air dan 1kg gula pasir

Cara membuat:

Rebus rosella dengan api kecil sampai warna bunganya memudar.jika sudah,saring dan peras hasil rebusan tersebut. Selanjutnya, masukan gula pasir, aduk hingga larut, angkat dan dinginkan.

- Pengolahan rosella menjadi manisan

Bahan :

2 kg gula pasir dan 2 ons kelopak rosella segar

Cara pembuatan :

Masukan air matang ke dalam panci kemudian panaskan hingga mendidih. Setelah itu, tambahkan gula, aduk hingga larut.matikan apinya.setelah dingin, masuklan rosella kedalam panci.biarkan selama 3-7 hari di tempat tertutup hingga rosella menjadi lunak. Setelah itu ankat dan keringkan, kemudian taburi gula pasir secukupnya.

- Pengolahan rosella menjadi selai

Bahan :

1 ons kelopak rosella segar, 1 ons gula pasir dan1 cc air.

Cara membuat :

Cuci bersi rosella segar lalu masukan ke dalam blender,tambahkan gula dan air secukupnya. Blender sehingga semuanya lumat menjadi halus. Setelah itu, masak hingga airnya kering, lalu dinginkan. Selai siapkan pada roti tawar.

- Pengolahan rosella menjadi kripik

Bahan :

1 ons kelopak rosella segar, cabai merah secukupnya, gula merah secukupnya dan garam sedikit.

Cara membuat :

Goreng rosella kering seperti menggoreng kripik lainnya, kemudian angkat. Setelah dingin campurkan dengan cairan gula merah, cabai, dan garam. Keripik

siap di konsumsi.

- Pengolahan rosella menjadi kopi

Bahan:

Biji rosella yang telah dikeringkan

Cara pembuatan:

Sangrai rosella di atas kompor berapi sedang. Setelah dingin,masukan biji rosella kedalam blender,lalu blender hingga menjadi bubuk. Bubuk kopi siap di seduh dengan air panas.

- Pengolahan rosella menjadi jus

Bahan :

1 ons kelopak rosella segar, 40 g pisang atau pepaya, 250 cc air matang, gula pasir secukupnya.

Cara membuat :

Cuci bersi rosella segar lalu masukan ke dalam blender, pisang atau pepaya untuk menambah kekentalan serta gula dan air secukupnya. Blender hingga halus.

- Rosella es mambo

Bahan :

60 g rosella kering, 900 g gula pasir

Cara membuat :

Masukan rosella ke dalam panci. Lalu, isi panci dengan air hingga 3/4 –nya. Panaskan panci di atas kompor hingga mendidih. Setelah mendidih, matikan kompor, lalu masukan 900 g gula pasir. Aduk hingga rata, kemudian saring dan peras. Pindahkan air rosella dari panci ke dalam ember. Tambahkan air ke dalam baskom hingga mencapai 4/5 ukuran ember, aduk kembali hingga rata. Masukan air rosella dari dalam baskom ke dalam plastik es mambo dengan menggunakan corong agar tidak tumpah, lalu ikat. Setelah semua selesai, masukan ke dalam lemari pendingin (freezer) agar beku menjadi es.

- Agar-agar Rosella

Bahan :

1 ons kelopak rosella segar, agar-agar putih 1 pak, gula pasir secukupnya dan 200 cc air.

Cara membuat :

Campur agar-agar dengan air. Masak di atas api sedang. Aduk hingga mengental atau mendidih. Tuangkan ke dalam cetakan. Sebelum megental, masukkan rosella segar di dalam agar-agar. Setelah itu dinginkan. Agar-agar siap di sajikan.

Ø Gambar Aneka Olahan Rosella

Gambar 4 : Teh celup Gambar 5 : Sirup rosella


Gambar 6 : Manisan rosella Gambar 7 : Selai rosella




Gambar 8 : Juice rosella

(Sumber:http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://2.bp.blogspot.com/Rosella.JPG&imgrefur l=http://rosellagarden.blogspot.com/)

Ø Aneka Ramuan Rosella

- Asam urat

Bahan

3-5 kelopak rosella kering dan 200 cc air panas

Cara pemakaian

Seduh 3-5 kelopak rosella dengan 200 cc air panas. Tambahkan gula atau madu secukupnya sesuai selera. Rosella seduh diminum setiap selama 1 bulan.

- Hipertensi

Bahan

1 kelopak rosella kering

Cara pemakaian

Siapkan 3 kuntum kelopak rosella kering. Seduh seperti membuat teh dan jangan ditambah gula. The rosella diminum secara rutin selama sebulan. Dosisnya 2 kali dalam sehari.

- Batuk

Bahan

3 kelopak rosella kering, 1 ruas kencur dan 1 sachet madu.

Cara pemakaian

Seduh campuran kelopak rosella, kencur yang telah dimemarkan, dan madu dalam 200 cc air panas. Air seduhan diminum setiap hari selama 3 hari.

- Flu, Demam dan Masuk Angin

Bahan

2 kelopak rosella kering, 1 ruas jahe yang dimemarkan dan 1 sachet madu.

Cara pemakaian

Seduh campuran kelopak rosella, jahe dan madu dengan 200 cc air panas. Air seduhan diminum satu kali setiap hari maksimal 3-4 hari.

- Kepala sakit

Bahan

7 kelopak rosella, 1 buah makhota dewa diiris dan 1 sachet madu.

Cara pemakaian

Ambil sejumput irisan buah mahkota dewa, kemudian masukkan ke dalam gelas yang sudah berisi rosella dan madu. Setelah ramuan siap, seduh dengan 200 cc air panas. Minum ramuan tersebut saat gejala sakit kepala mulai terasa.

- Alergi dan Pilek

Bahan

3 kelopak rosella kering dan 3 helai daun dadap

Cara pemakaian

Masukkan kelopak rosella dengan daun dadap dalam gelas, kemudian seduh dengan air panas 200 cc. minum ramuan 2 kali sehari.

- Menurunkan Berat Badan

Bahan

3-5 kuntum kelopak rosella kering

Cara pemakaian

Seduh kelopak rosella dengan 200 cc air panas. Sebaiknya tidak ditambahkan gula pada seduhan rosella. Rosella seduh diminum setiap hari selalma satu bulan.

- Keracunana Obat

Bahan

3-5 kelopak rosella kering

Cara pemakaian

Seduh kelopak rosella denhan 200 cc air panas dan dapat ditambahkan gula secukupnya untuk mengurangi rasa asam. Rosella seduh diminum setiap hari sesuai kebutuhan saat keracunan obat.



BAB III

METODE PENELITIAN


III. 1 Waktu dan Tempat Penelitian

III. 1. 1 Waktu

Penelitian ini berlangsung sejak bulan Oktober 2009 – Februari 2010.

III. 1. 2 Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di kompleks Universitas Hasanuddin.

III. 2 Alat dan Bahan

III.2.1 Alat

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain,

- Cangkul

- Pisau

- Alat tulis menulis

- Ember

III.2.2 Bahan

Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain,

- Polibag

- Tanah dan serasah daun

- Bibit Rosella

- Kertas label

III. 3 Prosedur Kerja

Dalam penelitian ini menggunakan dua perlakuan yaitu perlakuan di lahan terbuka (tanam langsung di tanah) dan polibag.

1. Lahan terbuka (tanam langsung di tanah)

a. Pembuatan Lahan

Lahan yang sudah ditentukan dibersihkan, kemudian dibuat bedengan dengan tinggi ± 15 cm, kemudian tanah tersebut di campur dengan serasah daun-daun.

b. Penanaman bibit

Tanaman rosella dapat dikembangbiakan dengan benih yang diperoleh dari tanaman yang sudah tua dan sehat. Biji yang masih baik warnanya coklat dan tidak rusak, biji yang di dapat berjumlah 10 sehinga di bagi 2 yaitu, 5 biji ditanam di tanah dan 5 biji sisanya ditanam di polibag.

Cara penanaman :

ü Membuat 5 lubang, tidak terlalu dalam yaitu ± 1cm dan jarak satu lubang dengan yang lain ± 18 cm (sejengkal).

ü Memasukkan setiap biji dalam 1 Lubang.

2. Polybag

Untuk lahan yang sangat terbatas bisa menggunakan polibag dengan hasil tanam yang terbatas, biasanya tinggi pohon hanya mencapai 40-70 cm. Media polibag juga dapat dijadikan media penyiapan benih hingga berumur 1 bulan (15-20 cm).

Ø Pembuatan media

Ø Cara penanaman :

ü Menyiapkan 5 kantong polibag

ü Kemudian masing-masing polibag tersebut di isi dengan tanah hingga permukaan polibag rata dengan tanah

ü Membuat lubang ± 1cm

ü Kemudian memasukkan 1 biji di setiap lubang pada polibag.

Ø Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan dengan menyiram tanaman tersebut pada pagi dan sore hari, membersihkan gulma serta menggemburkan tanah.

III.4 Parameter Pengamatan

Data yang akan diamati dalam penelitian ini adalah

- Waktu berkecambah

- Ciri vegetatif (tinggi tanaman, jumlah cabang, ukuran daun dan bentuk daun)

- Waktu berbunga

0 komentar: